Kisah Bagja dari Teluk Gong, Jakarta Utara

“Bangun… jangan tidur. Ada yang di jendela.”

Suara itu terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat Bagja membuka mata.

Malam sudah lewat pukul dua.

Di luar rumah tidak terdengar suara kendaraan. Tidak ada suara orang berjalan. Bahkan suara televisi dari rumah tetangga pun tidak terdengar.

Hanya sunyi.

Bagja menoleh kepada kakaknya yang tidur di sebelahnya.

Sang kakak sedang terlelap.

Kemudian terdengar lagi.

Krek… krek… krek…

Seperti seseorang sedang menginjak atau menggeser sesuatu di atas atap seng.

Bagja menelan ludah.

Ia masih terlalu muda untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa suara-suara aneh yang selama ini mereka dengar di rumah bukanlah suara tikus.

Bukan suara maling.

Dan bukan suara angin.

Karena beberapa detik kemudian, dari arah jendela, muncul sebuah bayangan hitam.

Dan sejak malam itu…

rumah mereka tidak pernah benar-benar sepi lagi.


Rumah di Teluk Gong

Tahun 1994.

Bagja masih duduk di kelas enam SD.

Ia adalah anak kedelapan dari delapan bersaudara.

Rumah keluarganya berada di kawasan Teluk Gong, Jakarta Utara.

Rumah itu sederhana.

Bagian atasnya bukan bangunan permanen seperti sekarang. Atap dan bagian lotengnya masih menggunakan seng dan tripleks.

Orang tua Bagja tidur di bawah.

Sementara Bagja bersama dua kakaknya tidur di bagian atas, di atas ranjang sederhana.

Pada awalnya, semuanya berjalan normal.

Sampai suatu malam…

Bagja mendengar suara dari atas rumah.

Krek… krek… krek…

Suara itu seperti sesuatu sedang berjalan di atas seng.

Bagja berpikir mungkin tikus.

Ia mencoba mengabaikannya.

“Ah, paling tikus.”

Ia kembali berbaring.

Namun suara itu tidak berhenti.

Malah semakin jelas.

Seolah-olah sesuatu sedang bergerak mengitari bagian atas rumah.

Bagja mencoba tidur.

Tidak lama kemudian, ia terbangun.

Tubuhnya terasa berat.

Di tengah rasa takut yang belum bisa ia pahami, Bagja mendengar suara aneh.

Seperti suara seseorang tertawa.

Pelan.

Hihihi…

Bagja membuka mata.

Di dekat jendela terdapat sebuah lubang kecil.

Jendela itu terbuka.

Bagja menatap ke arahnya.

Kemudian ia melihat sesuatu.

Sebuah sosok.

Gelap.

Hitam.

Bagja langsung gemetar.

“Siapa…?”

Tidak ada jawaban.

Sosok itu bergerak mengitari tempat tidurnya.

Bagja hanya bisa diam.

Ia terlalu takut untuk membangunkan kakaknya.

Malam itu terasa sangat panjang.


“Ada yang Buka-Buka Seng”

Menjelang subuh, suasana rumah kembali tenang.

Bagja akhirnya turun ke bawah.

Ayahnya sedang berada di ruang tamu.

Dengan suara masih gemetar, Bagja menceritakan apa yang terjadi.

“Ada yang buka-buka seng di atas.”

Ayahnya hanya menjawab singkat.

“Setan?”

Bagja terdiam.

Ia tidak menyangka ayahnya akan menjawab sesantai itu.

Seolah-olah hal semacam itu bukan sesuatu yang aneh.

Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai berulang.

Kadang terdengar suara langkah.

Kadang seng di atas rumah seperti diinjak.

Kadang terdengar suara sesuatu bergerak di loteng.

Dan yang paling mengerikan…

beberapa anggota keluarga mulai melihat sosok yang sama.


Bayangan di Jendela

Suatu malam, ibu Bagja terbangun.

Ia hendak membangunkan anaknya.

Ketika baru naik ke atas, pandangannya tertuju pada jendela.

Di sana berdiri sebuah bayangan hitam.

Bentuknya seperti manusia.

Diam.

Tidak bergerak.

Hanya berdiri di balik jendela dan menghadap ke dalam rumah.

Ibu Bagja tidak berteriak.

Ia hanya kembali tidur.

Keesokan harinya, ia menceritakan kejadian itu kepada tetangga.

Tetangganya langsung berkata,

“Jangan-jangan kuntilanak.”

Ibu Bagja sendiri tidak mengatakan bahwa sosok itu adalah kuntilanak.

Ia hanya melihat bayangan hitam.

Tetapi sejak saat itu, keluarga mereka mulai menyadari bahwa sesuatu memang ada di rumah tersebut.

Dan sesuatu itu sepertinya tidak hanya muncul sekali.


Bagja Mulai Takut Pulang

Tahun-tahun berlalu.

Bagja tumbuh menjadi remaja.

Namun gangguan itu tidak berhenti.

Setiap kali pulang terlalu malam, ia selalu merasa takut.

Bukan karena jalanan.

Bukan karena pencuri.

Tetapi karena rumahnya sendiri.

Kadang Bagja sengaja mengajak temannya untuk menginap.

“Udah, tidur di rumah gue aja.”

Temannya bingung.

“Kenapa?”

Bagja hanya menjawab,

“Kalau pulang malam gue takut.”

Ia tidak selalu menjelaskan alasannya.

Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa rumahnya memiliki penghuni yang tidak terlihat?


Sosok yang Duduk di Atas Ranjang

Suatu malam, kakaknya tidur sendirian.

Di tengah malam, ia merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya.

Seperti ada tangan yang mengusap atau mengganggunya.

Kakaknya terbangun.

Ia membuka mata.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mencoba kembali tidur.

Namun beberapa saat kemudian terdengar suara.

Hihihi…

Kakaknya membuka mata lagi.

Di sudut ruangan berdiri bayangan hitam.

Sosok itu perlahan terlihat semakin jelas.

Tubuhnya besar.

Kepalanya seperti menunduk.

Kakaknya menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.

Ia membaca doa.

Ketika berani melihat kembali…

sosok itu masih ada.

Bayangan hitam tersebut tampak semakin dekat.

Kakaknya langsung bangun dan pindah ke tempat tidur Bagja.

“Bangun!”

Bagja terkejut.

“Ada apa?”

“Jangan tidur di situ.”

Mereka akhirnya tidur berdekatan malam itu.

Tidak ada yang berani membicarakannya lagi.


Suara Radio yang Berganti Sendiri

Gangguan berikutnya terjadi kepada kakaknya yang lain.

Suatu malam, ia pulang setelah tengah malam.

Sesampainya di kamar, ia menyalakan radio.

Siaran terdengar normal.

Namun tiba-tiba…

klik.

Saluran berubah.

Kemudian berubah lagi.

Klik.

Berpindah lagi.

Seolah-olah seseorang sedang memainkan tombol radio.

Kakaknya mencoba membetulkan.

Tetapi radio terus berganti saluran.

Ia merasa tidak nyaman.

Akhirnya ia membangunkan Bagja.

“Bangun.”

“Ada apa?”

“Lu tidur di kamar gue aja.”

Bagja tidak banyak bertanya.

Malam itu mereka tidur bersama.

Karena mereka sama-sama tahu…

radio itu tidak berganti saluran dengan sendirinya.


“Itu Bukan Maling.”

Puncaknya terjadi sekitar pukul dua dini hari.

Bagja dan kakaknya sedang tidur.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari atas.

Krek!

Kemudian suara seperti seseorang menginjak pasir.

Kresss… kresss…

Bagja terbangun.

Kakaknya juga.

“Bangun!”

“Apa?”

“Dengerin!”

Mereka diam.

Suara itu terdengar lagi.

Kresss… kresss…

Seolah ada seseorang sedang berjalan di atas seng menggunakan pasir atau benda kasar.

Bagja berbisik,

“Maling?”

Kakaknya langsung menjawab,

“Bukan.”

“Terus siapa?”

Kakaknya menatap langit-langit.

“Itu bukan maling.”

Ia menghela napas.

“Yang dari dulu gangguin kita.”

Mereka tidak berani naik untuk memeriksa.

Tidak ada seorang pun yang mau membuka atap dan mencari tahu siapa yang berjalan di sana.

Karena mereka tahu…

kalau itu benar manusia, seharusnya ada suara langkah yang normal.

Tetapi suara tersebut selalu muncul di tempat yang mustahil.

Di atas seng.

Di atas loteng.

Di tengah malam.

Dan tidak pernah meninggalkan jejak.


Kuntilanak di Jalan

Suatu malam, listrik padam.

Beberapa rumah di sekitar mereka juga mengalami pemadaman.

Bagja, kakaknya, dan beberapa tetangga memilih begadang bersama.

Mereka membuat minuman hangat.

Mengobrol.

Berusaha melupakan rasa takut.

Sekitar pukul satu lewat, seorang tetangga memutuskan pulang.

Ayahnya baru pulang bekerja dari kawasan Muara Karang.

Ia berjalan sendirian melewati jalan di depan rumah.

Sampai di dekat tiang listrik, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Di depannya berdiri seorang perempuan.

Diam.

Tidak bergerak.

Pria itu mengira perempuan tersebut adalah seseorang yang sedang berjalan malam.

Ia mencoba melewatinya.

Namun ketika melihat lebih jelas…

wajah perempuan itu tidak seperti manusia.

Sosok tersebut berdiri dengan cara yang aneh.

Dan ketika diperhatikan lebih jauh…

perempuan itu mulai berubah.

Tubuhnya tampak memanjang.

Rambutnya menjuntai.

Sosok putih itu perlahan terangkat.

Melayang.

Pria itu langsung berteriak.

“Astaghfirullahaladzim!”

Sosok tersebut justru semakin mendekat.

Dalam kepanikan, ia mengambil ember kosong dan melemparkannya.

Tidak mengenai apa pun.

Karena sosok itu…

sudah berada di tempat lain.

Pria itu berlari.

Ia sampai di depan rumah Bagja sambil berteriak.

Ayah Bagja keluar.

“Ada apa?”

“Kuntilanak!”

Ayah Bagja mengambil sebatang balok.

Ia berjalan keluar.

Tetapi sosok itu sudah menghilang.

Malam itu, seluruh tetangga membicarakan kejadian tersebut.

Dan sejak saat itu, semakin banyak orang yang percaya bahwa kawasan tersebut memang bukan tempat biasa.


Sakit yang Tidak Biasa

Gangguan tidak berhenti.

Kemudian sesuatu terjadi kepada ayah Bagja.

Ia mulai sakit.

Tetapi sakitnya berbeda dari penyakit biasa.

Tubuhnya mengalami perubahan aneh.

Kulitnya seperti melepuh.

Seperti terkena air panas.

Luka-luka muncul di tubuhnya.

Keluarga mulai khawatir.

Mereka berobat.

Namun keadaan tetap memburuk.

Seseorang kemudian menyarankan agar ayah Bagja tidak tidur di atas ranjang.

“Jangan tidur di tempat itu.”

“Kenapa?”

“Untuk sementara tidur di bawah saja.”

Bagja dan keluarganya menurut.

Mereka tidak tahu apakah saran itu benar atau tidak.

Tetapi setelah bertahun-tahun mengalami berbagai kejadian aneh, mereka tidak ingin mengambil risiko.


Tawa dari Balik Sumur

Suatu malam, sekitar pukul dua, Bagja dan kakaknya berada di luar rumah.

Mereka duduk sambil berbicara dan merokok.

Malam begitu sunyi.

Tiba-tiba terdengar suara.

Hihihihihi…

Bagja langsung diam.

Kakaknya menatapnya.

“Kamu dengar?”

Bagja mengangguk.

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Hihihihi…

Mereka melihat ke arah sebuah sumur yang berada tidak jauh dari rumah.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi suara tawa itu seolah berasal dari sana.

Bagja merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Masuk.”

Kakaknya mengangguk.

Mereka segera masuk ke rumah.

Malam itu tidak ada yang berani keluar lagi.


Mimpi Ayah

Tidak lama setelah itu, salah seorang kakaknya bermimpi.

Dalam mimpi tersebut, ia melihat ayah mereka sedang berada di depan rumah.

Di hadapannya terdapat beberapa sosok menyerupai babi bertanduk.

Makhluk-makhluk itu menghalangi jalan.

Ayahnya mencoba mengusir mereka.

Tetapi tidak bisa.

Salah satu makhluk tersebut kemudian menyeruduk ayahnya.

Ia terbangun dalam keadaan ketakutan.

Mimpi itu terasa terlalu nyata.

Dan semakin lama, keluarga mereka mulai merasa bahwa semua kejadian tersebut memiliki hubungan satu sama lain.

Rumah itu.

Loteng.

Jendela.

Sumur.

Sosok-sosok yang muncul.

Dan sakit yang dialami ayah mereka.

Semuanya seperti terikat oleh sesuatu yang tidak mereka pahami.


Rumah Murah

Tahun 2001.

Bagja sudah lulus sekolah.

Rumah itu akhirnya dijual.

Harga rumah tersebut sangat murah untuk ukuran masa itu.

Sekitar delapan juta rupiah.

Sebuah rumah dengan beberapa kamar dan kebun.

Bagi sebagian orang, harga itu mungkin terdengar menguntungkan.

Namun bagi keluarga Bagja, rumah tersebut sudah terlalu banyak menyimpan cerita.

Terlalu banyak malam tanpa tidur.

Terlalu banyak suara dari atas seng.

Terlalu banyak bayangan di jendela.

Dan terlalu banyak penampakan yang tidak bisa dijelaskan.

Akhirnya mereka pergi.

Meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan Teluk Gong.

Dan berharap semua gangguan berhenti bersama kepindahan mereka.


Tetapi Ada Satu Hal yang Tidak Pernah Bagja Lupakan

Tujuh tahun.

Dari tahun 1994 hingga 2001.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat.

Bagja tumbuh bersama ketakutan itu.

Ia belajar bahwa tidak semua suara harus dicari sumbernya.

Tidak semua bayangan harus didekati.

Dan tidak semua rumah benar-benar hanya dihuni oleh manusia.

Namun ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih tertinggal dalam pikirannya.

Sebenarnya siapa yang tinggal di rumah itu?

Apakah sosok hitam di jendela?

Apakah makhluk yang berjalan di atas seng?

Apakah perempuan yang melayang di jalan?

Ataukah semuanya berasal dari satu sumber yang sama?

Bagja tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Yang ia tahu hanyalah satu hal.

Setelah keluarganya meninggalkan rumah tersebut, gangguan yang selama bertahun-tahun menghantui mereka akhirnya tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun kenangan itu tetap tinggal.

Karena ada tempat-tempat tertentu yang ketika kita tinggalkan…

tidak benar-benar meninggalkan kita.

Dan mungkin, sampai hari ini, ketika malam tiba di kawasan Teluk Gong…

di balik suara kendaraan yang melintas…

di antara seng-seng rumah yang tertiup angin…

masih ada sesuatu yang berjalan pelan di atas atap.

Krek…

Krek…

Krek…

Menunggu seseorang mendongak…

dan bertanya,

“Siapa di atas sana?”

(bersambung PART 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related posts