Sebuah pengalaman mistis yang tidak pernah dilupakan
Malam itu, Bu Sulastri hanya ingin berjalan sejauh dua ratus meter.
Tidak lebih.
Rumah yang hendak dikunjunginya tidak jauh dari tempat ia menginap. Hanya sebuah jalan kecil menuju perkampungan di kawasan kaki Gunung Semeru.
Namun malam itu, ada sesuatu yang menunggunya di tengah perjalanan.
Sesuatu yang awalnya terlihat seperti seekor kucing kecil.
Dan beberapa detik kemudian…
kucing itu berubah menjadi sangat besar.
—
Tahun itu, Sulastri sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Malang bersama anak-anaknya.
Perjalanan panjang membuat mereka kelelahan. Mereka berencana beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Namun sebelum tiba di Malang, sebuah kejadian aneh sudah lebih dahulu mengganggu perjalanan mereka.
Di tengah perjalanan, anak-anak tiba-tiba melihat sebuah bus.
Bus itu tampak hangus terbakar.
Seluruh bagian tubuhnya terlihat hitam seperti baru saja dilalap api.
Tetapi ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Bus itu…
masih berjalan.
“Bu…”
Salah seorang anak memanggil dengan suara bergetar.
Sulastri menoleh.
“Ada apa?”
“Itu… busnya terbakar.”
Sulastri memperhatikan jalan di depan.
Ia memang tidak melihat jelas apa yang dilihat anak-anaknya.
Tetapi tiba-tiba tubuhnya merinding.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah mereka baru saja melewati sesuatu yang bukan seharusnya mereka lihat.
“Sudah. Kita berhenti sebentar.”
Sulastri memutuskan untuk beristirahat.
Ia tidak ingin mengambil risiko.
Setelah suasana kembali tenang, perjalanan dilanjutkan.
Akhirnya mereka tiba di Malang.
Sulastri mengira kejadian aneh itu telah selesai.
Ternyata belum.
Beberapa hari kemudian, sekitar pukul sembilan malam, Sulastri hendak bersilaturahmi ke rumah kerabatnya.
Jaraknya tidak jauh.
Hanya sekitar dua sampai tiga ratus meter.
Namun untuk sampai ke sana, ia harus melewati sebuah jalan yang pada masa itu masih sangat gelap.
Tidak banyak lampu.
Tidak ada keramaian.
Hanya suara angin malam dan gesekan daun bambu.
Sulastri berjalan sendirian.
Tok… tok… tok…
Langkah kakinya terdengar di jalan yang sunyi.
Ia terus berjalan.
Sampai tiba-tiba…
Krek!
Suara batang bambu patah terdengar dari samping jalan.
Sulastri berhenti.
Ia menoleh.
Rumpun bambu bergerak perlahan.
Daunnya saling bergesekan.
Srrrkkk… srrrkkk…
Tidak ada siapa-siapa.
“Angin,” pikirnya.
Ia mencoba menenangkan diri.
Kemudian kembali berjalan.
Baru beberapa langkah…
Sulastri melihat sesuatu di tengah jalan.
Seekor kucing.
Tubuhnya kecil.
Bulu tubuhnya tampak samar di bawah cahaya malam.
Kucing itu diam.
Tidak berlari.
Tidak mengeong.
Hanya menatap Sulastri.
Sulastri memperlambat langkah.
“Ayo…”
Ia bermaksud mengusirnya agar kucing tersebut menyingkir.
Tetapi sebelum ia sempat melakukan apa-apa…
kucing itu mulai berubah.
Sulastri membeku.
Tubuh kucing tersebut perlahan membesar.
Awalnya sedikit.
Kemudian semakin besar.
Semakin besar.
Dalam waktu yang sangat singkat, ukurannya sudah tidak masuk akal.
Sulastri mundur satu langkah.
Jantungnya berdegup keras.
Dug! Dug! Dug!
Tangannya mulai dingin.
Seluruh tubuhnya merinding.
“Astagfirullah…”
Ia tidak mampu berteriak.
Tidak mampu berlari.
Ia hanya berdiri sambil membaca doa.
Kucing itu terus membesar di hadapannya.
Yang tadinya hanya sebesar kucing biasa…
kini menjadi makhluk besar yang memenuhi pandangannya.
Sulastri memejamkan mata.
Ia terus membaca doa.
Satu doa.
Kemudian doa berikutnya.
Sampai beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri membuka mata.
Makhluk itu masih ada.
Tetapi ukurannya mulai berubah.
Perlahan…
perlahan…
tubuh besarnya mengecil kembali.
Hingga akhirnya kembali menyerupai seekor kucing.
Kemudian hewan itu berbalik.
Berjalan ke arah kegelapan.
Dan menghilang di antara pepohonan.
Sulastri masih berdiri di tempatnya.
Napasnya tersengal.
Kakinya terasa lemas.
Ia baru berani bergerak setelah memastikan makhluk tersebut benar-benar pergi.
Dengan membaca doa sepanjang jalan, ia mempercepat langkah menuju rumah kerabatnya.
Sesampainya di rumah, Sulastri langsung menceritakan apa yang dialaminya.
Ia berharap keluarganya mengatakan bahwa semua itu hanya halusinasi karena suasana malam yang gelap.
Tetapi jawaban yang diberikan justru membuatnya semakin takut.
“Memang di situ ada.”
Sulastri terdiam.
“Apa?”
“Di jalan itu memang sering ada kejadian seperti itu.”
Sulastri menatap saudaranya.
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
Kemudian ia menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa melihat apa yang ada di kawasan tersebut.
Sebagian orang mungkin hanya melewati jalan itu seperti biasa.
Namun bagi orang tertentu, penampakan bisa muncul begitu saja.
Sulastri kemudian teringat kejadian malam itu.
Kucing kecil.
Kucing besar.
Dan kemudian kembali menjadi kecil.
Ternyata bukan hanya dirinya yang pernah mengalami hal serupa.
Ketika cerita tersebut disampaikan kepada ibunya, sang ibu pun membenarkan.
Ibunya yang sering pulang malam karena berdagang juga beberapa kali mengalami kejadian aneh di kawasan tersebut.
“Memang daerah sana begitu,” ujar ibunya.
Kawasan itu memang dikenal sepi dan memiliki banyak cerita mistis.
Tidak jauh dari sana terdapat aliran sungai besar yang berasal dari kawasan Gunung Semeru.
Pada masa itu, lingkungan sekitar masih jauh lebih gelap dan sunyi dibandingkan sekarang.
Orang-orang yang datang untuk berkemah pun kadang mengalami kejadian aneh.
Ada yang tiba-tiba kesurupan.
Ada yang melihat penampakan.
Dan ada pula yang pulang membawa cerita yang tidak bisa mereka jelaskan.
Sulastri hanya bisa terdiam mendengar semua itu.
Ia baru menyadari bahwa malam ketika dirinya berjalan sendirian bukanlah malam biasa.
Bertahun-tahun telah berlalu.
Tetapi Sulastri masih mengingat semuanya dengan jelas.
Ia masih mengingat jalan gelap itu.
Masih mengingat rumpun bambu yang bergerak.
Dan yang paling ia ingat…
adalah seekor kucing kecil yang berdiri di tengah jalan.
Kucing yang dalam hitungan detik berubah menjadi sangat besar.
Sampai hari ini, ia tidak pernah mengetahui apa sebenarnya yang dilihatnya malam itu.
Apakah seekor kucing biasa?
Ataukah sesuatu yang sengaja memperlihatkan wujudnya?
Tidak ada yang tahu.
Namun ada satu hal yang membuat pengalaman itu semakin sulit dilupakan.
Sebelum kejadian tersebut, Sulastri tidak pernah percaya bahwa sesuatu seperti itu benar-benar ada.
Setelah malam itu…
ia tidak lagi berani berjalan sendirian di jalan tersebut.
Sebab ia tahu…
di balik gelapnya jalan, di antara rumpun bambu, mungkin ada sesuatu yang sedang memperhatikan setiap orang yang lewat.
Dan mungkin…
jika malam itu Sulastri tidak membaca doa dan terus berjalan…
cerita tentang kucing besar di jalan kaki Gunung Semeru tidak akan pernah sampai kepada siapa pun. ***






Leave a Reply